Korupsi dan Motivasi Kerja yang Kebablasan

Budaya korupsi sudah sangat mengakar di negara kita, sehingga tampaknya perlu waktu cukup lama untuk memberantas dan menghilangkannya. Korupsi biasa dilakukan pejabat tinggi karena banyaknya lahan dan peluang untuk melakukan hal itu. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan korupsi juga dilakukan pegawai rendahan, baik perusahaan swasta maupun instansi pemerintahan.

Sangat disayangkan sebagai pegawai rendahan yang melakukan korupsi kecil-kecilan, masih menganggap perbuatan mereka adalah hal biasa yang dianggap tidak merugikan orang lain. Mereka pun menganggap itu dosa kecil yang diampuni Allah SWT.

Mereka mungkin sudah lupa, bahwa sekecil apapun perbuatan buruk yang dilakukan, apabila dibiasakan akan bertambah besar. Pada akhirnya, tak terasa kita akan melakukan juga perbuatan buruk yang lebih besar paat saat karier kita naik dan peluang besar untuk melakukan tindak pidana korupsi di depan mata, karena sudah menjadi kebiasaan.

Pada saat mendapatkan posisi dan jabatan tinggi serta peluang yang lebih besar, lahirlah koruptor kelas kakap dari yang tadinya hanya koruptor kelas teri. Korupsi biasanya muncul selain karena adanya kesempatan, juga karena merasa tidak pernah cukup dan puas dengan penghasilan atau gaji yang diterima. Keserakahan seorang koruptor akan menghapus rasa malu, malu pada bawahan atau pada rakyat. Mereka sebanarnya orang yang terpandangdi masyarakat, misalnya wakil rakyat, bupati, walikota atau gubernur, yang seharusnya menjadi teladan di tengah masyarakat.

Keserakahan pula bisa membuat seseorang lupa kalau dia sebenarnya tahu dan mengerti tentang agama dan dosa akibat perbuatannya, karena dia seorang pejabat di Departemen Agama atau pengelola haji yang memanfaatkan peluang yang ada pada masa ibadah haji. Sungguh sangat ironis. Hanya orang yang berimanlah yang akan bias mengendalikan hawa nafsu untuk mencari materi atau kekayaan yang melanggar hukum dan aturan, serta sangat merugikan orang lain, rakyat dan negara

Ibadah

Pada saat memasuki dunia kerja, biasanya motivasi seseorang adalah untuk mendapatkan penghasilan yang bisa mencukupi dan memenuhi segala kebutuhan hidup dan keluarga. Sangat disayangkan kalau tujuan kita bekerja hanya untuk mencari harta kekayaan yang sebesar-besarnya, kemewahan, dan budaya gengsi yang tinggi.

Seperti pejabat yang baru diangkat sudah menanyakan fasilitas kendaraan dan rumah mewah, tidak disertai juga dengan tujuan bekerja untuk memberikan manfaat dan pelayan bagi masyarakat. Sehingga, nilai positif yang ada dari sebuah motivasi kerja kan cenderung bergeser kearah negatif yang pada akhirnya ada kecenderungan timbullah motivasi kerja yang kebablasan.

Dengan motivasi yang seperti itu, kemungkinan segala cara akan dihalalkan tanpa melihat dampak yang sangat merugikan bagi pihak lain. Akibatnya kehancuran akan terjadi bukan hanya pada organisasi terkecil (perusahaan), sebuah negara pun bisa hancur karenanya.

Bekerja adalah ibadah, karena dengan bekerja kita bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan bekerja kita pun bisa memberikan manfaat bagi orang lain baik bagi penguna jasa kita, konsumen, perusahaan, rakyat dan negara. Sehingga, kita termotivasi terus untuk bekerja lebih baik dari waktu ke waktu, dan diharapkan karier kita pun meningkat tanpa harus merugikan orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar